Minggu, 03 Agustus 2014

Move On In 2

Bab 1

Aku menyukainya atau mungkin mencintainya melebihi apapun yang sudah aku miliki. Terkadang air mata mengalir tatkala rasa rindu menghadang sanubari yang tak terbendung oleh apapun. Selama 5 tahun aku menyukainya namun tak sempat terucap. kutahu ia juga memiliki perasaan yang sama namun harus berakhir karena satu alasan... GENGSI! 

***
Tuluskah aku? Takkan mungkin kulontarkan pertanyaan itu kepada diriku tapi lebih memalukan jika da orang lain yang tau. Terlebih si Dia. Sebut saja namanya Farel. Cowok tinggi semampai, otot yang sudah terbentuk walau umurnya masih belia. warna kulit yang kecoklatan. maksudku tidak hitam tidak putih yang mempertegas bahwa dirinya adalah pria yang berkelas. pantas saja aku menyukainya.

 Perasaan tetap perasaan. Namun rasa mudah pudar. Bisa dibodohi oleh kata-kata logika. Namun bagaimana jika logika yang harus jatuh cinta? Siapa yang akan menghapuska logika itu?

Aku terjebak dalam perasaan itu. Perasaan yang seharusnya tidak ada. Perasaan yang mungkin hanya membuahkan perih tanpa luka tapi duka. Aku tak pernah dikalahkan oleh siapapun dan dalam bidang apapun. Namun semuanya berhenti ketika aku menyukainya.

***
Bel telah berbunyi sebagai pertanda istirahat bagi yang lelah. Bergosip bagi cewek cewek rumpi. Namun aku lain,Kukemasi bukuku dan segera mengekor kepada guruku. Setelah berada diujung tangga aku segera menyamping. Tanpa peduli diperhatikan oleh kakak kelas aku berlari menuju pedagang siomay untuk membeli barang 4 tusuk siomay kemudian segera bersembunyi dibelakang kelasku, kelas 7-B sambil menikmati siomay tadi.

Ini mungkin terasa aneh bagiku. Namun aku tidak memiliki pilihan lain untuk cari aman dari cowok bangsat yang bernama Farel itu.

Bagaimana aku tidak kesal kepadanya? Aku tak ada salah sedikitpun dia pasti langsung cari masalah denganku.

*bersambung*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar